Tes Prokrastinasi: Kenapa Kamu Sering Menunda? | Grownoola

#ProcrastinationDecoded

Kamu bukan malas. Kamu cuma belum tahu apa yang bikin kamu terus menunda.

Rencana ada. Deadline juga ada. Tapi mulainya selalu nanti. Sebelum waktu dan kesempatan ikut lewat, cari tahu dulu apa yang sebenarnya bikin kamu menunda.

Tiap tahun resolusinya baru. Yang tertunda masih itu-itu lagi.

  1. Januari

    Mau cari kerja yang lebih cocok.

  2. Deadline lewat

    Beberapa bulan lewat. CV-nya masih setengah jadi.

Naya bertanya dalam hati: “Quarter-life crisis, kali ya?”

Nico berkata dalam hati: “Besok mulai serius, deh.”

Naya cemas melihat draft CV untuk rencana kariernya yang belum dijalankan Nico termenung di samping kalender dengan tanggal deadline yang sudah dicoret

Project baru, skill baru, rencana baru. Kita sering semangat di awal. Tapi begitu masuk bagian yang ribet, bikin takut, atau hasilnya enggak langsung kelihatan, rencananya pelan-pelan ditinggalin.

Sementara kita masih menunggu siap, waktu tetap jalan. Biaya hidup naik. Umur bertambah. Kesempatan datang, lalu pindah ke orang lain.

Jadi mungkin masalahnya bukan kurang niat. Kita cuma belum tahu apa yang selalu bikin langkah itu tertahan.

Kalau kamu sering menunda, kamu enggak sendirian.

Naya duduk dan menutup mulut karena terkejut melihat data tentang kebiasaan menunda Nico duduk sambil memegang dagu karena terkejut melihat data tentang kebiasaan menunda

Pelajar

Dalam satu studi di Indonesia, 95,8% pelajar yang diteliti mengalami penundaan akademik tingkat sedang hingga tinggi.

Artinya, dari setiap 10 orang yang diteliti, lebih dari 9 orang juga bergelut dengan kebiasaan menunda.

Staf kantor

Di studi lain, sekitar 65% staf kantor yang diteliti mengaku sering atau sangat sering menunda memulai pekerjaan.

Jadi masalah ini enggak otomatis hilang setelah kita lulus dan mulai bekerja.

Menunda ternyata bukan cuma urusan tugas sekolah atau skripsi. Kebiasaan yang sama bisa ikut sampai ke meja kerja.

Tapi ada satu hal yang enggak bisa dijawab angka ini: kenapa kamu menunda?

Dua studi terpisah di Indonesia: Abdullah dkk. (2026) dan Sunarta (2023). Lihat sumber & metode

Pelajar, 95,8%. Gabungan 75,6% kategori sedang dan 20,2% kategori tinggi pada studi prokrastinasi akademik terhadap 262 siswa SMA. Abdullah dkk., Buletin Konseling Inovatif, 2026 (membuka tab baru).

Staf kantor, sekitar 65%. Pada butir menunda memulai tugas, 54,9% menjawab sering dan 10,3% sangat sering. Survei terhadap 195 tenaga kependidikan di tiga perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Sunarta, disertasi Universitas Islam Indonesia, 2023, tabel 5.3 (PDF, membuka tab baru).

Dua angka ini berasal dari dua studi dengan kelompok dan cara pengukuran yang berbeda. Jadi angkanya tidak mewakili seluruh pelajar dan pekerja Indonesia. Tapi keduanya menunjukkan satu hal yang sama: kebiasaan menunda bisa muncul di berbagai tahap kehidupan.

Dua orang sama-sama belum mulai. Tapi penyebabnya bisa beda jauh.

Naya menopang dagu di depan laptop tertutup, buku catatan kosong, dan tumpukan buku

Mahasiswa

Skripsi belum mulai

“Takut salah, jadi riset terus.”

Tab-nya makin banyak. Halaman pertama masih kosong.

Nico memegang kepala di meja kerja dengan laptop dan tumpukan kertas laporan

Pekerja kantor

Laporan belum disentuh

“Kerjaannya udah numpuk. Mau mulai dari mana?”

Laporan belum jalan. Ide side income juga terus menunggu sampai kerjaan terasa beres.

Naya tertahan karena takut salah. Nico karena udah overwhelm duluan. Dari luar memang kelihatan sama-sama menunda. Tapi cara mengatasinya belum tentu sama.

Nah, kalau kamu, apa yang paling sering bikin berhenti sebelum benar-benar mulai?

Pesan dari dirimu lima tahun lagi:

“Tolong jangan tunggu lima tahun lagi buat mencari tahu kenapa kita selalu berhenti di tempat yang sama.”

Tes ini bukan buat ngecap kamu malas. Tes ini membantu melihat pola yang paling sering muncul, supaya kamu enggak terus mencoba solusi yang salah. Karena kalau kamu salah mengenali masalahnya, kamu juga akan salah mencari solusinya.

15 pertanyaan singkat. Hasilnya membantu refleksi diri, bukan diagnosis psikologis.

Masalahnya, waktu tetap jalan.

Menunda sehari memang terasa sepele. Yang mahal, kalau kebiasaannya ikut bertahun-tahun.

Awalnya mungkin tugas. Lalu skripsi. Begitu kerja, bentuknya berubah jadi laporan, skill baru, kesempatan pindah kerja, proyek pribadi, sampai side income.

Yang ditunda berubah seiring usia. Polanya bisa tetap sama.

Kalau penyebabnya enggak pernah dicari tahu, resolusi baru cuma ganti nama jadi rencana lama.

Kenali dulu apa yang paling sering menahanmu. Baru cari langkah yang benar-benar cocok.

10 tahun kemudian

Nggak ada yang kerasa, sampai kamu ketemu mereka lagi.

Menunda sehari memang nggak ada harganya. Tapi 3.650 hari yang diisi “nanti aja” baru kelihatan pas ketemu teman lama, dan itu bukan karena mereka lebih pintar. Mereka cuma lebih dulu berhenti bilang nanti. Jangan sedih, pola yang terbentuk pelan-pelan juga bisa diubah pelan-pelan.

Nico bersama teman-teman di foto kelas SMA 2016, lalu di foto reuni 2026 saat teman-temannya sudah sukses sementara Nico masih biasa-biasa saja.
Foto kelas 2016 dan reuni 2026. Orang yang sama, kebiasaan kecil yang berbeda.

asal kamu tahu caranya.

15 pertanyaan singkat. Hasilnya membantu refleksi diri, bukan diagnosis psikologis.

Cari tahu pola menundamu

🧩 Behavior · 1/31 / 15